Ridwan Tulus membuka perbincangan dengan serius. ”Pemerintah kita sekarang sedang gembar-gembor soal ’green tourism’, tetapi apa itu ’green tourism’ yang sesungguhnya belum dijalankan,” katanya.

Pemilik lembaga perjalanan wisata dan pelatihan Sumatra And Beyond sejak 2000 itu kemudian melanjutkan lagi dengan variabel-variabelnya. Empat ”mantra” sakti dia ulang terus-menerus terkait konsep industri pariwisata yang bertanggung jawab pada alam itu.

Protect the culture, protect the nature, empower and bring benefit to local people, conservation (melindungi kebudayaan, melindungi alam, memberdayakan dan memberikan keuntungan bagi masyarakat, dan melakukan konservasi),” kata Ridwan.

Karena itulah, sejak 2005 ia mendirikan Green Tourism Institute. Bukan institut dalam pengertian lembaga pengajaran konvensional lewat ruang-ruang kuliah dan modul, melainkan praktik industri pariwisata dengan mengajak wisatawan mengejawantahkan empat ”mantra” sakti tersebut.

Bentuknya bisa bermacam-macam dengan pelibatan langsung wisatawan di dalamnya. Pelestarian terumbu karang dengan upaya transplantasi, konservasi siamang, pentas tari tradisional, hingga membersihkan perkampungan.

Pernah pula nelayan tradisional dilibatkan dan ibu-ibu PKK diberi kursus memasak untuk melayani turis-turis Jepang di perkampungan mereka. Intinya bagaimana alam dan komunitas masyarakat lokal ikut mencecap manisnya putaran bisnis pariwisata.

Bagi peserta atau wisatawan yang ”lulus” dari institut itu, sertifikat akan diberikan Ridwan. Dengan demikian, pariwisata menjadi lebih hakiki dari sekadar urusan pelesir dan senang-senang.

”Saya tidak mau dianggap sekadar bicara saja, ayo kita ke Pulau Sikuai,” kata Ridwan.

Maka Kamis (29/12/2011) itu, bersama 12 wisatawan dari Jakarta dengan membayar paket one day tour, Kompas mendatangi Pulau Sikuai, Kota Padang, Sumatera Barat. Sejumlah penyelam dan peneliti dari Yayasan Minang Bahari yang memiliki keahlian khusus digandeng untuk keperluan itu.

Wisatawan yang terdiri atas pengunjung dewasa dan anak-anak itu melakukan transplantasi terumbu karang dan menuliskan harapan yang diharapkan tercapai pada 2012. Beragam harapan yang dituliskan dalam media lembaran plastik kuning itu lantas disematkan bersama bibit terumbu karang yang diikat di media tanam.

Sejumlah harapan, seperti keinginan menjadi juara kelas, berkumpul dengan keluarga, perdamaian dunia, dan naiknya Indeks Harga Saham Gabungan Bursa Efek Indonesia, tertulis di setiap media tanam dengan bibit terumbu karang itu.

Tidak kurang dari 20 media tanam berbentuk struktur tiang 5 sentimeter dengan dudukan lingkaran dari semen ditaruh dalam meja buatan dari paralon plastik. Ukurannya 1 meter x 1 meter dengan jalinan tali di atasnya.

Media tanam dengan bibit terumbu karang itu lantas dibenamkan di sisi timur pulau tersebut di kedalaman sekitar 2 meter. Dua penyelam dari Yayasan Minang Bahari menaruh hasil transplantasi itu ke tempat idealnya.

Salah seorang wisatawan, Teguh Kurniadi, yang datang dari Jakarta bersama keluarga besarnya mengatakan, kunjungan wisata jelang tutup tahun 2011 itu bermanfaat ganda. ”Ini harus lebih digalakkan lagi karena tentu masih banyak saudara kita yang belum mengerti manfaat pelestarian terumbu karang,” katanya.

Ia mengatakan, biaya kunjungan untuk datang ke lokasi wisata itu menjadi relatif karena manfaat jangka panjangnya. ”Karena ini mengajarkan anak-anak untuk memelihara lingkungan. Sayangnya informasi soal kegiatan ini tidak saya dapatkan dari pemerintah, tetapi dari agen perjalanan,” ujar Teguh.

Wisatawan juga bisa berinteraksi langsung dengan peneliti dari Yayasan Minang Bahari, Samsuardi, yang menjelaskan ihwal transplantasi terumbu karang. Ia mengatakan, upaya transplantasi terumbu karang merupakan upaya perbaikan ekosistem yang mesti dilakukan dengan memperhatikan sejumlah aturan. Di antaranya penempatan hasil transplantasi di kedalaman 2 meter hingga 5 meter untuk sinar matahari dan suhu air ideal.

Samsuardi menambahkan, idealnya transplantasi terumbu karang diikuti dengan perawatan rutin. Setiap satu bulan atau setidaknya enam bulan sekali, pembersihan mesti rutin dilakukan guna mencegah sedimentasi. ”Jadi, mestinya harus sama dengan merawat bunga di taman. Memang tidak bisa ditaruh, terus ditinggal,” kata Samsuardi.

Bibit terumbu karang yang diambil untuk transplantasi dengan prosedur setek itu mestinya juga diambil dengan hati-hati agar tidak mengganggu koloni secara keseluruhan. Bibit itu, kata Samsuardi, idealnya hanya sekali diambil dari sumber aslinya dan untuk selanjutnya guna pengembangbiakan mesti diambilkan dari hasil transplantasi.

Ia mengatakan, saat ini di perairan Pulau Sikuai tinggal sisi barat dan selatan pulau itu yang masih memiliki terumbu karang dengan kondisi relatif bagus. Sementara di sejumlah sisi lainnya, kondisi perairan dalamnya didominasi lumpur dan terumbu karang mati.

Di lokasi sebelah timur pulau itu sudah berulang kali terumbu karang ditransplantasi. Dalam catatan Kompas, setidaknya artis seperti Christine Hakim, Henidar Amroe, dan Tasman Taher pernah melakukan hal serupa di Pulau Sikuai atas inisiasi Ridwan.

Penyelam dari Yayasan Minang Bahari, Rizqi Habibul, mengatakan, sebelumnya terdapat tiga meja serupa yang telah dibenamkan untuk tujuan transplantasi terumbu karang. Namun, hingga saat ini hanya sekitar setengahnya dari jumlah itu yang kini tumbuh sesuai dengan harapan. Sisanya dimakan ikan atau didera sedimentasi.

Saat Kompas melakukan snorkeling di bagian timur pulau tersebut di kedalaman sekitar 2 meter, relatif tidak tampak terumbu karang hidup. Media tanam berupa tiang semen dengan dasar bulat tempat mengikat bibit terumbu karang tampak dipenuhi pasir dan lumpur.

Hanya beberapa jenis ikan karang dengan warna cerah yang masih menyusup di sela-sela karang mati. Jarak pandang juga terbatas untuk melakukan olahraga snorkeling.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sumbar Yosmeri pada hari yang sama mengatakan, terumbu karang di lokasi perairan itu sudah dilindungi. ”Sejak tiga tahun lalu kami bekerja sama dengan LSM untuk melakukan transplantasi dan kami berikan pula pengertian kepada penduduk agar jangan merusak,” katanya.

Namun, menurut Yosmeri, soal terbesar yang dihadapi memang terkait dengan isu perawatan. ”Perawatan itu memang harus kita lakukan,” katanya.

Ridwan mengatakan, idealnya setiap enam bulan sekali memang dilakukan pemotretan untuk memantau kondisi terumbu karang yang baru ditransplantasi. ”Mestinya memang foto itu kita kirim kepada orang yang melakukan transplantasi agar semakin banyak orang tertarik. Tetapi, kami juga punya keterbatasan untuk melakukan itu,” katanya.

Di titik inilah lingkungan alam, masyarakat, wisatawan, dan pelaku industri wisata seperti Ridwan butuh peran konkret pemerintah.(INGKI RINALDI)

Source: Kompas